
Tiga pasangan capres-cawapres yang akan maju ke pilpres , punya cara sendiri-sendiri untuk mendeklarasikan diri. Diawali dengan pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto yang memilih Tugu Proklamator, Jakarta sebagai tempat deklarasi. Disusul pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) Institut Teknologi Bandung. Sedangkan pasangan Megawati-Prabowo Subianto memilih tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Bantar Gebang, Bekasi untuk tempat deklarasi.
Deklarasi pasangan JK-Win dilakukan di Tugu Proklamator, barangkali ingin memaknai jiwa, semangat dan heroisme Soekarno-Hatta ketika memproklamirkan Indonesia merdeka 17 Agustus 1945. Pelaksanaan deklarasi itupun dilakukan dengan biasa-biasa saja, tanpa kemasan pencitraan yang berlebihan, Cuma dimeriahkan oleh tokoh-tokoh dan simpatisan partai Golkar dan Hanura.

Sedangkan pasangan SBY-Boedono yang dideklarasikan di gedung Sabuga,ITB Bandung, dikemas oleh event organizer Fox Indonesia, disajikan dengan ornamen pendukung yang mengesankan mewah, bahkan untuk baju yang dikenakan pun di pesan secara khusus. Deklarasi ini rupanya meniru pendeklarasian calon presiden Amerika Barack Husein Obama dan calon wakil presiden Joe Biden. Bahkan Ketua DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengakui kalau deklarasi SBY-Boediono mirip deklarasi Obama-Joe Biden.
Berbeda jauh dengan pasangan SBY-Boediono, pasangan Megawati-Prabowo memilih “gunung sampah” Bantar Gebang Bekasi sebagai tempat mendeklarasikan diri, Minggu 24 Mei 2009 mendatang. PDIP-Girindra yang mengklaim partai “wong cilik” ingin dekat dengan realitas orang kecil yang bertaruh hidup lewat sampah.

Lantas berapa mahalkah biaya yang dikeluarkan untuk deklarasi SBY-Boediono? Menurut salah satu Pimpinan Partai Demokrat yang juga Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, biayanya tidak mahal, namun kemasannya saja yang dirancang dengan baik. Betulkah?
Deklarasi yang dilakukan Mega-Prabowo, jelas sebuah sindirian bagi SBY-Boediono yang terkesan mewah dan mahal, seakan tak peka terhadap kondisi masyarakat yang sebagian besar masih harus bertarung demi perut. Pencitraan memang tidak murah, tapi lebih dari itu, setiap pimpinan partai, dituntut punya kepekaan dan kearifan terhadap rakyatnya yang masih susah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar