
Beberapa bulan belakangan ini, iklan kampanye mulai berseliweran di banyak stasiun televisi. Sejumlah tokoh partai, muncul dengan pesan-pesan vulgar yang intinya mulai ancang-ancang buat tampil di Pilpres 2009. Tak terbayang berapa besar dana digunakan untuk mengemas public image tersebut, yang hanya dinikmati oleh media massa dan biro-biro jasa iklan di tanah air.
Konon Soetrisno Bachir bekerjasama dengan FOX untuk program pencitraan ini merogoh kocek hingga 300 milyar. Belum lagi petinggi-petinggi partai lainnya, dipastikan akan mengeluarkan dana puluhan milyar untuk iklan kampanye ini. Lantas bakal bermanfaatkah?
Sementara di sisi yang lain, 2 pekan terakhir ini, bahkan lebih. Minyak tanah menghilang dari wilayah Bogor. Lebih sulit lagi, distribusi gas rakyat pun tak pernah lancar, bahkan sampai menghilang juga dari pasaran.
Mak Iti dan Mak Encah pedagang kue dibelakang rumah, bahkan tak bisa lagi berjulan akibat minyak tanah menghilang dan gas rakyat pun tiada. Padahal membuat dan berdagang kue bagi Mak Iti dan Mak Encah, tempat perut keluarganya bergantung.
Tak jauh beda, mang Sajum penjaga puskemas di Cimandala pun, sejak 4 bulan terakhir, memasak dengan menggunakan kayu bakar yang dikumpulkan dari sungai yang mengalir di belakang rumahnya. “Saya nggak sanggup lagi beli minyak tanah apalagi gas. Bisa beli, tapi kita nggak makan” kata dia.
Kalau di seputaran kita tinggal saja, semakin banyak orang kecil yang kian rapuh dan kehilangan kemampuan. Lantas berapa banyak lagi kalau dari Aceh hingga Irja? Betulkah angka kemiskinan rakyat kita makin menurun?
Petani juga semakin teraniaya, karena mahal dan sering langkanya pupuk. Supir angkot, taxi, bus dan tukang ojek banyak mengeluh mahalnya BBM, yang berdampak mengecilnya penerimaan mereka. Tenaga yang dikeluarkan, tak sebanding dengan hasil yang didapatkan.
Menjelang Pilpres 2009, ketika dana kampanye mengalir dengan demikian derasnya. Barangkali pilihan yang tepat, jika pimpinan partai rame-rame membagikan dana kampanyenya ke rakyat langsung, alias politik uang kita legalkan?