
Gonjuang-ganjing politik di negeri ini seakan tak pernah usai, bermula dari tudingan tokoh-tokoh agama soal kebohongan public SBY, persoalan Ahmadiyah yang tak tuntas-tuntas, ribu-ribut soal koalisasi, semarak isu reshufle kabinet, yang terakhir tudingan media Australia The Age “Yudhoyono ‘abused power’ alias Yudhoyono menyelewengkan kekuasaan. Sumpek betul kepala rakyat dengan hinggar bingar persoalan ini.
Belum lagi, negeri ini kembali dihadapkan kelangkaan BBM di sejumlah daerah, antrian panjang truk-truk pengangkut, di pelabuhan Merak, harga cabai yang menjadi mahal, tanpa petani menikmati hasilnya. Kemacetan Jakarta yang tak pernah usai, ditambah sederet lagi persoalan sosial yang tak pernah ada habisnya.
Presiden SBY sebagai pemimpin sah republik ini, yang dipilih oleh 60 % rakyat negeri ini, mustinya tak perlu panik apalagi mengambil langkah-langkah yang kurang populer, dengan hanya sekedar mengeluarkan pernyataan atau memberikan klarifikasi melalui pers. “Rakyat suntuk dan cape melihat, mendengar dan membaca pernyataan para politisi,” ujar seorang teman.
SBY tak perlu lagi terperangkap pada langkah-langkah pencitraan, yang tak berdampak buat rakyat. Jadi yang harus dilakukan presiden SBY, adalah kembali ke rakyat dan rajin menyapa rakyat. Rakyat saat ini butuh komunikasi intens dengan presiden yang dipilihnya, rakyat butuh saluran langsung untuk ngomong dengan presiden yang dipercaya mampu menampung keluhan mereka, karena para wakil rakyat tak lagi mampu mewakili rakyatnya. Karena para politisi sudah buta warna menangkap kesan-pesan dan perasaan rakyat.
Langkahnya sederhana, bisa saja setiap Jumat, presiden SBY buat “coffee morning,” untuk menyerap keluhan rakyat, cukup dengan sajian bajigur, dilengkapi ubi dan pisang rebus. Siangnya saat shalat Jumat, Pak Presiden, bisa berkeliling ke masjid-masjid, bahkan menjangkau seluruh nusantara untuk menangkap keluhan rakyat dan menyelaraskan dengan kebijakannya yang pro rakyat dan berbuat untuk rakyat.
Pak Presiden, lakukanlah semuanya dengan kesederhanaan, dengan contoh dan teladan. Jangan pernah risi berada di antara antrian truk pelabuhan Merak, tanpa protokoler dan basi-basi untuk sidak dan bertindak. Sikat siapa pun mereka yang merugikan dan menyengsarakan rakyat, tanpa harus rame-rame pake publikasi segala.
Pak Presiden, masih cukup waktu, berbuat bayak untuk rakyat, menghadirkan langkah-langkah yang pro rakyat. Pak jangan pernah letih berbuat untuk rakyat...!