Sabtu, 30 Agustus 2008

Antri Minyak-4




Antrian jerigen minyak tanah mencapai 100 meter.

Antri Minyak-3




Ibu-ibu protes pemilik pangkalan minyak tanah karena sudah lama menunggu minyak belum datang juga

Antri Minyak-2




Untuk mendapatkan minyak tanah 5 liter, ibu-ibu harus antri selama 7 jam

Antri Minyak-1




Pangkalan Minyak Tanah di Ciluer, Sukaraja, Bogor

Kamis, 28 Agustus 2008

Dari Iklan Kampanye Sampai Minah Menghilang, Gas pun Tiada


Beberapa bulan belakangan ini, iklan kampanye mulai berseliweran di banyak stasiun televisi. Sejumlah tokoh partai, muncul dengan pesan-pesan vulgar yang intinya mulai ancang-ancang buat tampil di Pilpres 2009. Tak terbayang berapa besar dana digunakan untuk mengemas public image tersebut, yang hanya dinikmati oleh media massa dan biro-biro jasa iklan di tanah air.

Konon Soetrisno Bachir bekerjasama dengan FOX untuk program pencitraan ini merogoh kocek hingga 300 milyar. Belum lagi petinggi-petinggi partai lainnya, dipastikan akan mengeluarkan dana puluhan milyar untuk iklan kampanye ini. Lantas bakal bermanfaatkah?

Sementara di sisi yang lain, 2 pekan terakhir ini, bahkan lebih. Minyak tanah menghilang dari wilayah Bogor. Lebih sulit lagi, distribusi gas rakyat pun tak pernah lancar, bahkan sampai menghilang juga dari pasaran.

Mak Iti dan Mak Encah pedagang kue dibelakang rumah, bahkan tak bisa lagi berjulan akibat minyak tanah menghilang dan gas rakyat pun tiada. Padahal membuat dan berdagang kue bagi Mak Iti dan Mak Encah, tempat perut keluarganya bergantung.

Tak jauh beda, mang Sajum penjaga puskemas di Cimandala pun, sejak 4 bulan terakhir, memasak dengan menggunakan kayu bakar yang dikumpulkan dari sungai yang mengalir di belakang rumahnya. “Saya nggak sanggup lagi beli minyak tanah apalagi gas. Bisa beli, tapi kita nggak makan” kata dia.

Kalau di seputaran kita tinggal saja, semakin banyak orang kecil yang kian rapuh dan kehilangan kemampuan. Lantas berapa banyak lagi kalau dari Aceh hingga Irja? Betulkah angka kemiskinan rakyat kita makin menurun?

Petani juga semakin teraniaya, karena mahal dan sering langkanya pupuk. Supir angkot, taxi, bus dan tukang ojek banyak mengeluh mahalnya BBM, yang berdampak mengecilnya penerimaan mereka. Tenaga yang dikeluarkan, tak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Menjelang Pilpres 2009, ketika dana kampanye mengalir dengan demikian derasnya. Barangkali pilihan yang tepat, jika pimpinan partai rame-rame membagikan dana kampanyenya ke rakyat langsung, alias politik uang kita legalkan?

Rabu, 09 Juli 2008

Model PSB Yang Tak Seragam

Pekan ini hampir setiap orangtua yang memiliki anak lulus sekolah disibukan dengan mencari sekolah baru. Bahkan sejumlah jalan di Bogor Senin (7/7) macet sejak pagi hari, karena pada hari itu pengumuman penerimaan siswa baru dilakukan disemua jenjang secara serempak, belum lagi ditambah dengan pendaftaran ulang siswa yang naik jenjang.

Kelulusan, nilai ujian dan hasil tes menjadi standar mengukur penerimaan siswa di hampir setiap sekolah.Tapi jangan salah, aturan itu tak seragam di seluruh wilayah RI, bahkan beberbeda kabupaten saja, setiap Kantor Diknas bikin aturan penerimaanya berbeda lagi. Yang lebih ironis lagi "kasak-kusuk" jalan belakang masih mewarnai PSB tahun ini.Modelnya, jelas beragam cara di tempuh orangtua dan oknum sekolah untuk meng-golkan anaknya masuk ke sekolah favorite.

Untuk menyekolahkan anak di sekolah favorite, haruskah kita menempuh cara-cara yang jelas bertentangan dengan hati nurani? Ikhlas'kah hati kita, mendidik anak melalui cara-cara yang tak terdidik? Belum lagi, kalau akibat ulah kita banyak anak-anak pandai yang harus kehilangan kesempatan, karena kita lebih mampu.

Mungkin PSB online yang dilakukan oleh Diknas DKI, boleh dibilang bisa menjadi contoh alias model PSB secara nasional. Transparansi dan keterbukaan menjadi simpul mengecilkan peluang "kasak-kusuk" bagi oknum sekolah maupun orangtua yang berupaya tidak terpuji