Kamis, 14 April 2011

Briptu Norman Kamaru dan Politisi PKS Arifinto


Ada dua fenomena menarik dalam kurun waktu yang hampir bersamaaan di negeri tercinta ini. Munculnya Briptu Norman Kamaru sebagai penyanyi dadakan yang diminati banyak penggemar, akibat live sing-nya di publish melalui situs jejaring video YouTube menyanyikan lagu Sahrul Khan “Chaiya Chaiya.”

Satunya lagi, kasus politisi PKS Arifinto yang ke tangkap kamera seorang photografer, sedang mengunduh situs porno lewat tablet Galaxy Tab miliknya, saat rapat paripurna penutupan masa sidang III DPR-RI 2010-2011, Jumat (8/4/2011). Sang photografer M. Irfan, memiliki 60 frame/gambar Arifinto, paling tidak diambil dalam durasi 2 sampai 2,5 menit.

Briptu Norman Kamaru muncul kepermukaan lewat proses alami dan tak disengaja, mampu menghibur masyarakat. Bahkan sepekan terakhir, hampir sebagian besar paket acara hiburan televisi, menghadirkan Briptu Norman Kamaru sebagai bintang tamu, termasuk maraknya pemberitaan di media massa tanah air.

Briptu Norman mampu tampil sebagai ikon pencitraan Polri, yang pada awalnya dibesarkan oleh penggemar yang meng-hit tampilan polos melalui YouTube. Institusi Polri mendapat berkah pencitraan melalui Briptu Norman Kamaru, tanpa harus membuang dana besar, untuk mendekatkan Polri dengan masyarakat.

Sementara kelakuan politisi PKS Arifinto, justru menghadirkan keterpurukan pencitraan bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang selama ini dikenal senantiasa menjunjung tinggi etika dan moral. Langkah Arifinto untuk mundur sebagai anggota DPR, sebuah budaya politik, yang mustinya dapat menjadi contoh bagi para politisi di negeri ini, sebagai pengakuan terhadap sebuah kesalahan atau kekhilafan.

Yang satu muncul dan yang lainnya tenggelam, melalui sebuah proses kebetulan dan tak diduga, begitulah hukum alam dan kehidupan. Briptu Norman Kamaru menjadi ikon pencitraan Polri yang menguntungkan. Sedangkan politisi PKS Arifinto, justru sebaliknya “mengkerdilkan” pencitraan PKS sendiri.

Pencitraan dan branding bagi sebuah institusi, lembaga, perusahaan, tokoh dan pimpinan termasuk seorang presiden menjadi demikian penting dan selama ini terkesan “berbiaya mahal,” dengan mengandalkan berbagai strategi media massa yang rumit dan menyesakan. Padahal pencitraan yang baik, dapat muncul dari perilaku setiap personal dari institusi tersebut, yang menghadirkan kesejukan, kedekatan, kebaikan, keindahan dan kemauan melayani, yang bermula dari hal-hal kecil dan sederhana.

Tidak ada komentar: